Notification

×

Iklan

Iklan

Ngaji Fiqh Bareng Cak Subhan; Asbab Batalnya Wudhu Karena Menyentuh Wanita Termasuk Istri

Kamis, 02 Juli 2020 | Juli 02, 2020 WIB Last Updated 2020-10-02T00:04:55Z

 

tazmiera.com- Dalam diskursus fikih bersenntuhan dengan wanita dipandang sebagai perkara yang dapat membatalkan wudhu. Kentut dan buang air kecil maupun besar juga dapat mambatalkan wudhu. Pertnyaanya kemudian adalah mengapa menyentuh wanita membatalkan wudhu? Apakah wanita termasuk dalam sesuatu yang “menjijikan” dan ‘’kotor”, sehingga bersentuhan dengannya berakibat dapat merusak kesucian wudhu?


Pendapat tentang bersentuhan dengan wanita membatalkan wudhu didasarkan kepada al-qur’an surat almaidah ayat 6 dan surat annisa’ ayat 43


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Almaidah:6)


وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا


Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (Annisa’:43)


Redaksi ayat لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ sebagaimana disebutkan dalam dua ayat diatas menunjukkan bahwa bersentuhan antara pria dan wanita membatalkan wudhu. Dalam hal ini tidak ada perbedaan dan peselisihan pendapat ulama. Namun yang diperselisihkan mereka adalah makna dari maksud kata mulamasah itu sendiri.



Sebagian ulama memahami kata mulamasah itu sebagaimana dalam teks ayat diatas sebagai sebuah hubungan badan suami istri. Dan yang lainnya menyatakan bahwa mulamasah itu bersentuhan kulit sebagaimana yang umum dipahami oleh kita semua.


Diantara ulama yang berpendapat mulamasah sebagai hubungan suami-istri adalah  imam ali ibnu abbas, abu musa ubaydah, al hasan dan as syatibi. Menurut mereka memegang perempuan (istri) dengan tangannya tidak wajib berwudhu, atau wudhunya dianggap tidak batal.


Sedangkan menurut mahzhab Imam Syafi’I, persentuhan sebagaimana dalam pembahasan ini (mulamasah) kepada yang bukan mahramnya dengan tanpa pembatas maka wudhu yang bersangkutan menjadi batal.


Jadi kesimpulanya adalah bahwa pemahaman tentang konsep pembahasan tentang batal atau tidaknya wudhu kita ketika usai bersentuhan dengan lawan jenis tergantung pada sejauhmana pemahan kita menelaah pendapat para imam mahzab. Jika kita condong pada pendapat Imam Syafi’I maka wudhu kita akan menjadi batal, namun ketika kita berpendapat lebih condong pada pendapat ulama yang lain yang tidak membatalkan maka sesungguhnya itu juga tidak salah. 


Dan yang tidak kalah penting dari itu semua adalah jangan kemudian kita saling menyalahkan satu sama lain hanya karena kita tidak memahami konsep dasar apa yang saudara kita pahami dan mereka kerjakan.


Wallahu’alam bisowab.

Cak Subhan


×
Berita Terbaru Update