Notification

×

Iklan

Iklan

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ushul Fikih

Senin, 03 Agustus 2020 | Agustus 03, 2020 WIB Last Updated 2020-08-04T03:24:07Z




Ilmu ushul fiqh bersamaan munculnya dengan ilmu fiqh meskipun dalam penyusunannya ilmu fiqh dilakukan lebih dahulu dari ushul fiqh. Sebenar nya keberadaan fiqh harus didahului oleh ushul fiqh, karena ushul fiqh itu adalah ketentuan atau kaidah yang harus diikuti mujtahid pada waktu meng hasilkan fiqhnya. Namun dalam perumusannya ushul fiqh datang belakangan.


Perumusan fiqh sebenarnya sudah dimulai langsung sesudah Nabi wafat, yaitu pada periode sahabat. Pemikiran dalam ushul fiqh telah ada pada waktu perumusan fiqh itu. Para sahabat—di antaranya Umar Ibn Khattab, Ibnu Mas‘ud, ‘Ali ibn Abi Thalib umpamanya—pada waktu mengemukakan pendapatnya tentang hukum, sebenarnya sudah menggunakan aturan atau pedoman da lam merumuskan hukum, meskipun secara jelas mereka tidak mengemukakan demikian.


Sewaktu ‘Ali ibn Abi Thalib menetapkan hukuman cambuk sebanyak 80 kali terhadap peminum khamar, beliau berkata, “Bila ia minum ia akan mabuk dan bila ia mabuk, ia akan menuduh orang
berbuat zina secara tidak benar; maka kepadanya diberikan sanksi tuduhan berbuat zina.” Dari pernyataan ‘Ali itu, akan diketahui bahwa ‘Ali rupanya menggunakan kaidah menutup pintu keja hatan yang akan timbul atau “sad al-dzari‘ah”.


‘Abdullah ibn Mas’ud sewaktu mengemukakan pendapatnya tentang wanita hamil yang kematian suami ‘idahnya adalah me lahirkan anak, mengemukakan argumennya dengan Firman Allah dalam surat at-Thalaq (85) ayat 4, meskipun juga ada Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) yang menjelaskan bahwa istri yang kematian suami ‘idahnya empat bulan sepuluh hari. Dalam menetapkan pendapat ini beliau mengatakan bahwa ayat 4 surat at-Thalaq datang sesudah ayat
234 surat al-Baqarah (2). 


Dari tindakan Ibnu Mas’ud tersebut kelihatan bahwa dalam menetapkan fatwanya itu ia menggunakan kaidah ushul, tentang nasakhmansûkh, yaitu bahwa dalil yang datang kemudian menasakhkan dalil yang datang terdahulu. Dari apa yang dilakukan lbnu Mas‘ud ini dan juga dari apa yang dilakukan ‘Ali ibn Abi Thalib dalam con toh di atas kita dapat memahami bahwa para sahabat dalam melakukan ijtihad mengikuti suatu pedoman tertentu meskipun tidak dirumuskan secara jelas.



Pada periode tabi‘în lapangan istinbath atau perumusan hukum semakin meluas karena begitu banyaknya peristiwa hukum yang bermunculan. Dalam masa itu beberapa orang ulama tabi‘ini tampil sebagai pemberi fatwa hukum terhadap kejadian yang muncul; umpamanya Sa‘id ibn Musayyab di Madinah dan lbrahim al-Nakha‘i di lrak. Masing-masing ulama ini mengetahui secara baik ayat -ayat hukum dalam Al-Qur’an dan mempunyai koleksi yang lengkap tentang hadis Nabi. Jika mereka tidak menemukan jawaban hukum dalam Al-Qur’an atau hadis, sebagian dari mereka mengikuti metode maslahat dan sebagian mengikuti metode qiyas.


Usaha istinbath hukum yang dilakukan Ibrahim al-Nakha‘i dan ulama Irak lainnya mengarah kepada mengeluarkan ‘Illat hukum dari nash dan menerapkan nya terhadap peristiwa yang lama yang baru bermunculan kemudian hari.


Dari keterangan di atas jelaslah bahwa metode yang digunakan dalam meru muskan hukum syara’ semakin memperlihatkan bentuknya.Perbedaan metode yang digunakan menyebabkan timbulnya perbedaan aliran dalam fiqh. Abu Hanifah dalam usaha merumuskan fiqhnya menggunakan metode tersendiri. Ia menetapkan Al-Qur’an sebagai sumber pokok, kemudian hadis Nabi, berikutnya fatwa sahabat. Ia mengambil hukum-hukum yang telah disepa kati para sahabat. Dalam hal-hal yang ulama sahabat berbeda pendapat, ia me milih satu di antaranya yang dianggap lebih kuat. Abu Hanifah tidak mengambil pendapat ulama tabi‘in sebagai dalil dengan pertimbangan bahwa ulama tabi‘in itu berada dalam satu ranking dengannya. Metodenya dalam menggunakan qiyâs dan istihsân terlihat nyata sekali.


Imam Malik menempuh metode ushuli yang lebih jelas menggunakan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah, sebagaimana dinyatakan dalam buku dan risalahnya. Terlihat usahanya menolak hadis yang dihubungkan kepada Nabi karena hadis itu menyalahi nash Al-Qur’an. Imam Malik lebih banyak menggunakan hadis ketimbang Abu Hanifah; mungkin karena begitu banyaknya hadis yang dia temukan. Dalam penggunaan qiyâs, ia memberikan persyaratan yang begitu berat. Tetapi di balik itu, Imam Malik menggunakan maslahat mursalah yang tidak digunakan ulama jumhur; sebagai imbangan dari istihsân yang digunakan Abu Hanifah. Metode yang digunakan Imam Malik dalam merumuskan hukum syara’ me rupakan pantulan dari aliran Hijaz, sebagaimana metode yang digunakan Abu Hanifah merupakan pantulan dari aliran Irak.


Setelah Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, tampil Imam Syafi‘i. Ia menemukan dalam masanya perbendaharaan fiqh yang sudah berkembang semenjak periode sahabat, tabi‘in, dan imam-imam yang mendahuluinya. Ia menemukan perbincangan tentang fiqh begitu meriah yang diwarnai diskusi dan polemik yang menarik di antara tokoh-tokoh yang berbeda pendapat. Perdebatan terbu ka berlangsung di antara kubu Madinah dan kubu Irak. 

Imam Syafi‘i menggali pengalaman dalam berbagai diskusi di tengah pendapat yang berbeda itu. Ia memiliki pengetahuan tentang fiqh Maliki yang diterimanya langsung dari Imam Malik. Ia juga sempat menimba pengetahuan dan pengalaman dari Muhammad ibn Hasan al-Syaibani (murid Abu Hanifah) sewaktu ia berada di Irak. Selain itu, ia pun mendalami fiqh ulama Mekah tempat ia lahir dan berkembang. Modal pengalaman dan pengetahuannya yang luas dan mendalam itu, memberi petunj uk kepada Imam Syafi‘i untuk meletakkan pedoman dan neraca berpikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan mujtahid dalam merumus kan hukum dari dalilnya. Metode berpikir yang dirumuskan Imam Syafi‘i itulah yang kemudian disebut “ushul fiqh”.


Imam Syafi‘i pantas disebut sebagai orang pertama yang menyusun sistem metodologi berpikir tentang hukum Islam, yang kemudian populer dengan sebutan ushul fiqh; sehingga tidak salah ucapan seseorang orientalis Inggris, N. J. Coulson, yang me ngatakan bahwa Imam Syafi‘i adalah arsitek ilmu fiqh. Hal ini bukanlah berarti beliau yang merintis dan mengembangkan ilmu tersebut. 


Jauh sebelumnya, mulai dari para sahabat, tabi‘in, bahkan di kalangan imam mujta hid belakangan seperti Abu Hanifah, Imam Malik dan juga di kalangan ulama Syi‘ah seperti Muhammad al-Baqir dan Ja’far al-Shadiq sudah menemukan dan menggunakan metodologi dalam perumusan fiqh. Tetapi mereka belum menyusun ilmu itu secara sistematis sehingga dapat disebut sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Kemampuan Imam Syafi‘i dalam melahirkan ilmu ushul fiqh ini ditopang beberapa faktor yang ada pada diri dan pengalamannya. 

Pengalamannya yang lama di pedesaan Arab memungkinkannya menimba pengetahuan tentang ba hasa Arab bahkan ia menjadi salah seorang ahli Lisân al-‘Arab. Dengan ilmu ini ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam merumuskan kaidah untuk mengeluarkan hukum syara’ dari teks Al-Qur’an dan hadis yang keduanya berbahasa Arab orisinal.


Selama keberadaannya di Mekah, Imam Syafi‘i mewarisi ilmu Al-Qur’an dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas yang memungkinkannya untuk mengenal nasikh-man sûkh dalam Al-Qur’an. Di samping itu, ia berkesempatan pula mendalami hadis Nabi dari ulama hadis yang memungkinkannya mengenal kedudukan sunah bagi Al-Qur’an sehingga beliau dapat menyelesaikan pendapat dan anggapan adanya pertentangan antara Al-Qur’an dengan Hadis Nabi. Penguasaannya yang baik terhadap fiqh aliran tradisionalis (Hijaz) dan fiqh aliran rasionalis (Irak) merupakan modal dasar penyusunan kaidah-kaidah dalam menggunakan qiyâs. Dengan segenap kemampuannya itu, Imam Syafi‘i berhasil menyusun metodo logi yang sistematis dalam merumuskan hukum syara’.


Sepeninggal Imam Syafi‘i pembicaraan tentang ushul fiqh semakin menarik, dan ushul fiqh itu sendiri semakin berkembang. Pada dasarnya ulama fiqh pengikut imam mujtahid yang datang  kemudian mengikuti dasar-dasar yang sudah disu sun Imam Syafi‘i. Dalam pengembangannya terlihat adanya perbedaan arah yang menyebabkan perbedaan dalam ushul fiqh.


Sebagian ulama yang kebanyakan pengikut Imam Syafi‘i men coba mengem bangkan ushul fiqh Syafi‘i dengan cara, antara lain: mensyarahkan, memerinci yang bersifat garis besar,  mempercabangkan pokok pikiran Imam Syafi‘i, sehingga ushul fiqh Syafi‘iyyah menemukan bentuknya yang sempurna.


Sebagian ulama mengambil sebagian dari pokok-pokok pikiran Imam Syafi‘i itu dan tidak mengikutinya dalam bagian lain yang bersifat rincian. Sebagai ganti dari yang tidak diikutinya itu ditambahkannya hal-hal yang sudah menjadi dasar bagi pikiran imam mereka.


Kelompok ulama Hanafiyah mengambil sebagian yang dasar-dasarnya diletakkan Imam Syafi‘i, kemudian mereka menambahkan pemikiran tentang istihsan dan ‘urf yang diambil dari imam mereka. Kelompok ulama Malikiyah, di samping mengikuti beberapa dasar yang diletakkan Imam Syafi‘i, mereka tidak mengikuti pendapat Syafi‘i yang menolak ijmâ’ ahli Madi nah dan memasukkan tambahan berupa maslahat mursalah serta prinsip pene tapan hukum berdasarkan sad al-dzarâ‘i.


Pada prinsipnya fuqaha mazhab yang empat tidak berbeda dengan dasar yang ditetapkan Imam Syafi‘i tentang penggunaan dalil yang empat, yaitu: Al-Qur’an, hadis, Ijma’ dan Qiyas, meskipun dalam kadar penggunaannya terdapat perbe daan. Di samping itu, masing-masing menggunakan dalil tambahan yang tidak digunakan ulama lainnya.


Meskipun kemudian sesudah meninggalnya imam-imam mujtahid yang empat dinyatakan bahwa kegiatan ijtihad terhenti, namun sebenarnya yang terhenti adalah kegiatan ijtihad mutlaq sedangkan ijtihad terhadap ushul mazhab yang tertentu masih tetap berlangsung yang masing-masing mengarah kepada menguatnya ushul fiqh yang dirintis para imam pendahulunya. 

Sesudah melembaganya mazhab-mazhab fiqh, maka arah pengembangan ushul fiqh terlihat dalam dua bentuk yang berbeda.


Pertama, arah pemikiran murni, yaitu penyusunan kaidah ushul yang tidak terpengaruh kepada furu’ mazhab mana pun. Perhatian pembahasan dalam hal ini mengarah kepada penerapan kaidah dan menguatkannya, tanpa terikat pada amal yang berkembang di kalangan mazhab. Perkembangan ushul fiqh menurut arah ini disebut ushul fiqh Syafi‘iyah atau ushul fiqh aliran Mutakallimin. 


Penamaan ulama Mutakallimin atau ulama kalam tersebut, dalam hal ini karena pemikiran ulama kalam di bidang ini mengelompok dalam aliran ushul fiqh. Di antara buku ushul fiqh yang disusun menurut metode ini adalah:

1. Kitab al-Mu’tamad karangan Abu Hasan al-Bashri yang dalam aliran kalam beraliran Mu’tazilah;
2. Kitab al-Burhân karangan Imam al-Haramain; dan
3. Kitab al-Mustashfâ karangan al-Ghazali.


Ketiga kitab tersebut oleh ulama yang datang kemudian dibuat ikhtisar sehingga menjadi karangan pendek. Karangan pendek ini kemudian oleh ulama belakangan disyarahkan. Kemudian syarah itu diberi hasyiyah, sehingga akhirnya berkembang menjadi kitab-kitab ushul fiqh dalam mazhab Syafi‘i.
Kedua, mengarah pada penyusunan ushul fiqh yang terpengaruh pada furu’ dan menyesuaikannya bagi kepentingan furu’ dan ber usaha mengembangkan ijtihad yang telah berlangsung sebelumnya. Hal ini berarti bahwa pengikut mazhab melakukan ijtihad untuk memelihara hukum fiqh yang dicapai oleh ulama pendahulu mazhabnya. Mereka mengemukakan kaidah-kaidah yang men dukung dan menguatkan mazhab mereka. 

Ulama fuqaha yang lebih banyak menggunakan metode ini adalah ulama kelompok Hanafiyah. 
Karena itu metode ushul fiqh menurut metode ini disebut metode ushul Hanafiyah. Kitab-kitab ushul fiqh menurut metode ini, antara lain:

1. Kitab Ushûl karangan al-Karahki;
2. Kitab al-Ushûl karangan Abu Bakar al-Razi; dan
3. Kitab Ta’sîs al-Nazhar karangan al-Dabbusi.

Sesudah itu bermunculan kitab-kitab ushul fiqh aliran Hanafiyah, seperti karangan al-Baidhawi, al-Sarhisi, dan lain-lainnya. Sesudah dua metode ini berjalan mapan dan berkembang menurut aliran ma sing-masing, ditemukan pula kitab-kitab ushul fiqh yang merupakan gabungan dari kedua aliran tersebut. Sebagian ditulis oleh ulama dari mazhab Syafi‘i seperti kitab Jam‘ul Jawâmi’ oleh Ibnu Subki dan sebagian ditulis ulama mazhab Hanafi seperti kitab al-Tahrîr oleh Kamaluddin ibn al-Hummam.
×
Berita Terbaru Update